未分類

“Selena, besok kamu masih disini kan?”. Tanya Nico. “Iya, kenapa?”. Jawabku. “Kamu mau mengunjungi beberapa tempat denganku?”. Lanjutnya. “Tergantung sih tempatnya apa”. Lanjutku. “Arrrgggh Selena! Bisa gak bsih kamu…..”. Belum selesai Nico bicara. “Hahaha bercanda”. Jawabku dengan mencubit hidung Nico. “Mau kok, asal kamu gak ngajak aku ke Chilly Restya. Bisa mati aku disana”. Lanjutku. “Hmmmm boleh juga tuh. Makasih ya Selena, tambah satu lagi daftar tempat yang akan kita datangi besok”. Jelas Nico. “Ehh jangan Chilly Rest nya. Emang kamu mau ajak aku kemana sih?”.  Tanyaku. “Rahasia kalau aku kasih tahu nanti namanya bukan kejutan lagi”. Jawab Nico singkat. “Hmmm gitu ya?”. Jawabku. “Iya! Selena ini lilinnya biar disini semua?”. Tanya Nico. “Iya, kalau terang seperti ini kan bagus”. Jawabku sambil mengambil lilin ke 19. “Tunggu, biar aku yang nyalain”. Nico meminta agar dia yang menyalakan lilin tersebut. “Nih pegang lilinnya!”. Ia memintaku untuk memegang lilin yang baru saja ia nyalakan. “Kalau bisa jadi sesuatu, kamu ingin jadi apa?”. Tiba-tiba Nico menanyakan hal seperti itu. “Pertanyaan aneh”. Ucapku padanya. “Selena, sekali-kali jangan protes dong”. Kata Nico kesal. “Hehehe maaf. Hmmm jadi apa ya? Mungkin tape recorder”. Jawabku. “Kenapa harus tape recorder?”. Tanya Nico. “Nico, sekali-kali jangan protes dong”. Aku mengikuti kata-kata Nico saat ia kesal. “Selenaaaaaaa”. Ucap Nico sambil melirik kesal. “Hehee soalnya agar bisa merekam otomatis saat kamu bermain piano”. Ini adalah jawaban dari hatiku. “Kenapa gak tanya aku”. Pinta Nico. “Emang ingin jadi apa?”. Tanyaku. “Ingin jadi lilin”. Jawabnya. “Lilin?”. Tanyaku lagi. “Iya lilin. Karena aku ingin jadi sesuatu yang dibutuhkan. Tapi aku gak mau jadi lilin biasa. Aku cuma mau menjadi lilin yang kamu pegang. Dengan begitu aku akan menjadi cahaya yang mampu membawa pergi ketakutanmu”. Nico mengatakannya dengan sangat dalam. Entah mengapa aku selalu ingat akan kata-kata yang ia ucapkan dengan cara yang seperti itu. Menimbulkan kebahagiaan saat mendengarnya. Aku sudah tidak bisa menepisnya lagi, tidak bisa menutupi perasaanku yang menyukai dirinya. Merasa aman ketika bersamanya dan merasa bahagia didekatnya. Ya, perlahan rasa suka yang kurasakan semakin kuat. Aku mencintai Nico.

アンネの小説 Novel

“Selena, Selena!”. Nico mebuyarkan lamunanku. “Ah.. Maaf, maaf”. Jawabku singkat. “Jangan melamun aja, Lihat tuh! Aku udah selesai nyalain 16 lilin. Kamu baru nyalain 2 lilin?! Hahaha”. Ia menunjukkan lilin-lilin yang sudah ia nyalakan. “Ayok cepat, tinggal satu lagi nih!”. Lanjutnya dengan memberikan satu lilin padaku. Aku memegang lilin yang diberikan oleh Nico. Sepertinya bukan lilin biasa, tapi tidak apa-apa kunyalakan saja. “Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday happy birthday. Happy birthday dear Selena”. Nico bernyanyi di saat aku menyalakan lilin terakhir. Aku tidak menyadari jika hari ini adalah tanggal 14 februari. “Selamat ulang tahun ya Selena. Sebenarnya aku ingin membuat kamu cape dengan menyalakan lilin sebanyak ini. Tapi ternyata aku kualat”. Kata Nico dengan tawa gembira. Di hari ulang tahunku, kali ini Nico bersamaku. Dia selalu menjadi orang pertama yang memberi ucapan ulang tahun padaku. Tapi kali ini di usia 19 tahunku terasa lebih spesial. Aku mendengar dan melihatnya secara langsung, dia di depanku dan mengucapkannya. “Jadi kamu sengaja ya matiin lampu untuk untukn ini? Ihhhh Nicooo!”. Kataku sambil mencubit pipinya. “Aochhh! Enggak Selena, gak mungkin aku tega seperti itu. Sumpah deh”. Kata Nico di sertai tangan kirinya yang membentuk simbol peace. “Hehehe kali ini waktu berpihak padaku kan?”. Lanjut Nico dengan senyum jahilnya. “Makasih ya Nico”. Jawabku padanya. Sebenarnya aku bingung kenapa Nico membawa banyak sekali lilin. Meskipun dia tahu jika aku memiliki ketakutan pada kegelapan, tidak masuk akal untuk menyalakan lilin sebanyak ini. Kini aku menyadari akan 19 batang lilin berukir. 19 untuk usiaku, dan dia menyalakannya ditengah kegelapan hatiku yang bimbang, yang masih memiliki rasa bersalah padanya. “Tiup lilinnya, Selena. Tapi jangan lupa make a wish”. Kata Nico. Aku menunduk, memejamkan mata dan berdoa. “Tuhan terimakasih untuk hari ini, terimakasih hari ini adalah nyata. Kali ini aku bertemu dengan Nico lagi. Tuhan, tolong berikan aku kekuatan untuk mengatakan apa yang seharusnya sudah aku katakan padanya. Dan tolong jangan pernah hilangkan senyum di wajahnya. Terimakasih Tuhan. Amin!”.