アンネの小説 Novel

Niko berjalan menuju tempat jungkat-jungkit berada. Dia mendekat, aku bertanya-tanya kenapa dia berdiri memandangi permainan tersebut? Dia menangis? Dengan mata yang berkaca-kaca Nico menghampiri jungkat-jungkit dan memegangnya. “Apa maksudnya ini? Jelas sekali kemarin kamu bersamaku, kita disini. Bagaimana mungkin kau tidak sadarkan diri dan tergeletak di rumah sakit?”. Ucap nya pada jungkat-jungkit tepat aku duduki kemarin. “Aku pikir mungkin ini sudah waktunya untuk kita…” Kedatangan seorang kakek berbaju biru membuyarkan kediaman Nico. “Sedang apa kau sendiri disini nak?” Sapa kakek tua pada Nico. “Aku… Lho paman Chris!”. Seru Nico pada kakek tersebut. Ternyata dia adalah paman Chris, paman yang menjaga SD dan taman ini. Kami sering berjumpa dengannya disini. Dia orang yang cukup baik. Ketika aku menangis disini, dia datang dan mengajakku bicara. Apa yang dia ceritakan pasti bisa membuat mood buruk ku hilang, benar-benar paman yang sangat hangat. “Nico? Kamu sudah besar nak, dan paman pun sudah menjadi seorang kakek. Kamu tampan sekali. Dimana temanmu si Selena itu?”. Ucap pria ini pada Nico. “Dia… Aku sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi. Paman aku tidak tahu harus menceritakan ini pada siapa karena semuanya menganggapku tidak masuk akal. Apa paman ada waktu untuk mengerkan?”. Tanya Nico padanya. “Mari nak kita cari tempat duduk”. Ucap paman Chris.

 

アンネのマイブーム Love, Life and Relationship, アンネの小説 Novel

Nico menutup pintu mobil dengan keras. Raut muka yang sama sekali tidak hangat dan tatapan kosong, aku belum pernah melihat dia sekacau ini. Dalam hati aku bertanya, bagaimana jika dia mendapati aku benar-benar meninggal? Aku yang saat ini bisa berada disisi Nico adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Anugrah benar-benar terjadi, sejak kemarin tubuhku terbaring di rumah sakit. Roh diriku menemuinya dan kebedaanku menjadi nyata. Dan sekarang aku malah berharap itu terjadi lagi. Apakah aku terlalu serakah?

Ia mengendarai mobil dengan kencang. Klakson dibunyikan tepat saat tiba di depan pagar berwarna hitam. Lho ini rumah Nico, apakah dia menyerah pada diriku yang terbaring koma? Sungguhkan dia tidak perduli dan…
Dengan cepat Nico keluar dari mobil bagaikan orang bergegas menghadiri pertemuan bisnis.

“Bi, aku tanya sekali lagi. Kemarin malam lihat aku pulang bersama Selena kan?”. Tanya Nico pada perempuan paruh baya berbaju kuning. “Tidak, seperti yang saya katakan kemarin kalau mas Nico pulang sendirian. Tidak bersama siapapun”. Jawabnya. Tangan kanan Nico memegang dahi seperti gerakan orang yang sedang pusing karena terbebani pikiran. “Ini pertanyaan terakhir aku. Benar bibi yakin kalau aku pulang sendiri?”. Tegas Nico dengan pertanyaan yang sama. “Benar, makanya kemarin saya kaget kenapa mas Nico minta dibuatkan dua minuman dan yang satu coklat. Saya tahu dengan jelas mas Nico tidak suka coklat”. Jawabnya lagi.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!”. Gumam Nico disertai tangan kanan yang mentuh rambut pada dahi. Tak lama kemudian dia pergi berkendara lagi. Kali ini aku tahu, ini menuju tempat jungkat-jungkit. Kali ini apa yang akan ia lakukan disana? Dia kembali kerumah hanya untuk memastikan keberadaanku nyata. Aku salah paham, dia tidak menyerah untuk membuktikannya. Tapi kali ini bagaimana caranya dia membuktikan di tempat ini? Disini tidak ada siapapun yang bisa ia tanya.