NOSTALGIC DIARY Bab IV: Senja (Part: 7)

“Warna jingga pada senja bukan tercipta tanpa alasan. Warna jingga tersebut…” Nico mengingat perkataan gadis caffe yang dia temui ditoko bunga. “Apa sebaiknya aku dengarkan dia sampai selesai? Tapi apa maksudnya dia mengatakan warna senja padaku?”. Nico tidak bisa berhenti memikirkan apa maksud dari perkataan tersebut. “Nick!” Stefan berhasil mengagetkan Nico. “Kaget? Melamun jorok ya?”. Goda Stefan pada Nico. “Apa sih? Aku tidak pernah melakukan hobimu”. Jawab Nico. “Ternyata kau sering mengamatiku ya?! Haha. Ngomong-ngomong kau baik-baik saja?”. Tanya Stefan pada Nico. “Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?”. Ucap Nico. “Kondisimu sekarang sepertinya lebih buruk dari saat kau ditinggal Miss S keluar negeri dick! Hahaha”. Stefan memang hobi melemparkan candaan pedas pada sahabatnya, namun terjadang candaan yang ia lemparkan pada Nico justru mampu memecahkan kegundahannya sesaat. “Makan ini kertas!”. Ucap Nico sembari memberikan pekerjaan pada sahabatnya yang sering bertingkah konyol. “Oh tidaaak, kau tidak balas dendam kan? Ahh nanti aku tidak bisa pergi berkencan kalau seperti ini. Malang sekali nasibku, tapi nasibmu lebih malang dariku!” Ucap Stefan shock ketika sabahatnya meletakkan segunung dokumen dimejanya. “Diam kau, selamat menikmati!”. Ucap Nico bercanda namun tetap dengan wajah datarnya. “Tapi serius Nick, aku ingin Tanya sesuatu. Apa benar yang kau jenguk kemarin adalah si Miss S?”. Tanya Stefan pada Nico. “Kalau bukan dia siapa lagi?”. Jawab Nico. “Bagaimana ceritanya? Bukanlah kali ini kau bisa bertemu dengan dia dan menghabiskan malam berdua, ditemani cahaya lilin dan ugh mungkin harus kusensor”. Goda Stefan. “Tidak seperti yang kau kira, bersihkan dulu otakmu!”. Jawab Nico. “Terus bagaimana kronologinya sampai-sampai dia masuk rumah sakit. Apa karena permainanmu terlalu kasar Nick? Tak pernah kusangka.” Stefan menggoda lagi. “Mau makan kertas lebih banyak?”. Balas Nico sambil memegang tumpukan kertas. “Hahahha… Setidaknya jangan bikin sahabatmu mati konyol karena penasaran”. Ucap Stefan yang sebenarnya khawatir karena tidak mengetahui apa-apa. “Lebih baik kuceritakan saat makan nanti”. Ucap Nico. “Ini sedang makan kan? Makan kertas.”. Jawab Stefan. Nico hanya membalas dengan pandangan sadis. Stefanpun tertawa melihat ekspresi kawannya.

スポンサーリンク