アンネの小説 Novel

“Kau ingat pria tadi?.” Tanya Monika padaku ketika kami telah meninggalkan ruang makan. “Pria yang mana?.” Tanyaku. “Saat kita makan.” Jawabnya. “Oh dia, aku ingat tapi aku gak pernah lihat dia. Kenapa?.” Jawabku. “Serius gak tau? Dia orang dari departemen kantor cabang yang dipindahkan ke tempat kita.” Ucap nya. “Pantas aku gak pernah melihat dia.” Ucapku. “Saat kau mengambil cuti 3 hari yang lalu, saat itu juga mereka dipindahkan kemari. Tapi dalam waktu sesingkat itu pria tadi sudah menjadi perbincangan wanita-wanita amazon.” Ucapnya. Amazon adalah sebutan kami untuk departemen yang beranggota hanya wanita, padahal ini termasuk departemen Monika. “Tapi kulihat sepertinya dia orang yang sangat cuek dan pendiam. Atau mungkin hanya perasaanku saja?” Jawabku. “Memang, aku melihatnya pun seperti itu. Wajahnya lumayan, tapi dia cuek sekali dan sangat dingin. Sama sekali bukan tipeku.” Ucap nya. “Kalau dipandanganmu bagaimana?.” Tambahnya. “Ya seperti itu, cuek, pendiam dan dingin.” Jawabku.

“Bukan itu Irene! Maksudku apa kau ada ketertarikan seperti para wanita amazon?.” Ucap nya. “Aku biasa saja. Tidak berpendapat kalau dia tampan, jelek pun tidak. Biasa saja tidak membuatku tertarik atau terpikat.” Jawabku. “Kamu memang tipe wanita yang tidak bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Walaupun bertemu dengan jenis-jenis yang kau suka.” Ucapnya. “Jenis yang ku suka?.” Tanyaku. “Cowok yang dingin pada semua wanita tetapi hanya hangat padamu.” Jawabnya dengan menggodaku. “Belum tau jika nanti dia menunjukkan kehangatannya padaku.” Jawabku dan kami tertawa bersama.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Aku terbangun dengan semua ingatan itu. Aku berharap segalanya adalah mimpi. Tapi itu semua adalah kenyataan.”

“Irene yang sabar.”

“Irene yang kuat.”

“Irene, aku turut berduka cita.”

Knok knok..

“Masuklah.” Ucap kepala sekolah. “Ibu memanggil saya?”. Ucap ku. “Ya, masuklah nak. Kemari. Jika ini Irene, Ibu yakin kamu bias melewati semuanya. Karena kamu adalah anak yang luar biasa. Jangan menyerah, masa depanmu berawal dari hari ini nak.”

Kejadian 6 tahun lalu kembali terulang saat ini. Hal yang paling kutakutkan akhirnya terjadi.

“Jika ibu meninggal, maka aku benar-benar sendiri. Dan itu benar-benar terjadi, aku benar-benar sendiri”.

“Irene, kau makan apa?.” Ucap Monika. “Roti, aku sedang malas masak.” Jawabku. “Itu saja? Apakah kenyang?.” Ucap Monika. “Aku sedang malas makan.” Jawabku. “Kamu harus tetap makan yang banyak. Mau coba bekalku?.” Ucapnya. “Gak usah, aku gak nafsu makan.” Aku menolak. “Kalau begitu besok aku bawakan bekal untukmu juga ya? Kau kan suka dengan masakan ibuku.” Dia, Monika adalah satu-satunya teman yang sangat dekat denganku. “Maaf, kursi sebelah kosong? Boleh aku duduk disana? Semua tempat sudah penuh.” Ucap pria yang mengenakan kemeja biru menghampiri tempat kami. “Kosong, silahkan pakai.” Jawabku. “Terima kasih.” Ucap pria itu dan langsung duduk untuk menikmati makan siang. Aku melihat dia mengeluarkan box tempat nasi dan rupanya dia membawa bekal. Jarang sekali anak laki-laki yang membawa bekal makan siang dari rumah. Tanpa sadar aku melihat ke arahnya cukup lama, pria itu pun menyadarinya dan balas memandangku. Seketika aku pun memalingkan pandanganku darinya.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Sedang ngobrol apa sih? Ikutan dong!”. Ucap Stephanie yang menghampiri meja di sudut pojok ruang makan karyawan dimana Stefan dan Nico duduk. “Jadi kalian ingin tahu seberapa besar ukuran milik pria tampan didepanku ini?”. Jawab Stefan. “Dasar otak udang! Ayok cari tempat lain, jangan makan dengan mereka”. Ucap Stephanie dan menarik tangan Anastasia untuk mencari tempat lain. “Kenapa sih kau bisa pacaran dengan dia?”. Ucap Anastasia pada Stephanie. “Pertanyaanmu menyakitkan sekali, Anastasia”. Teriak Stefan. “Gak perduli”. Ucap kedua gadis itu bersamaan. “Otak kotormu terkadang bisa berguna”. Ucap Nico pada sahabatnya yang memang tidak memiliki sensor mulut. “Meskipun aku sendiri juga jijik. Tapi efektif kan untuk mengusir mereka?. Ngomong-ngomong mulailah bercerita”. Jawabnya. “Harus mulai dari mana ya?”. Bukan malah menceritakan ia melontarkan pertanyaan. “Dari awal saja mungkin. Kau tahu sendiri kan kadar kecerdasan sahabatmu ini kurang dari 50% kecerdasan lumba-lumba!”. Ucap Stefan.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Warna jingga pada senja bukan tercipta tanpa alasan. Warna jingga tersebut…” Nico mengingat perkataan gadis caffe yang dia temui ditoko bunga. “Apa sebaiknya aku dengarkan dia sampai selesai? Tapi apa maksudnya dia mengatakan warna senja padaku?”. Nico tidak bisa berhenti memikirkan apa maksud dari perkataan tersebut. “Nick!” Stefan berhasil mengagetkan Nico. “Kaget? Melamun jorok ya?”. Goda Stefan pada Nico. “Apa sih? Aku tidak pernah melakukan hobimu”. Jawab Nico. “Ternyata kau sering mengamatiku ya?! Haha. Ngomong-ngomong kau baik-baik saja?”. Tanya Stefan pada Nico. “Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja?”. Ucap Nico. “Kondisimu sekarang sepertinya lebih buruk dari saat kau ditinggal Miss S keluar negeri dick! Hahaha”. Stefan memang hobi melemparkan candaan pedas pada sahabatnya, namun terjadang candaan yang ia lemparkan pada Nico justru mampu memecahkan kegundahannya sesaat. “Makan ini kertas!”. Ucap Nico sembari memberikan pekerjaan pada sahabatnya yang sering bertingkah konyol. “Oh tidaaak, kau tidak balas dendam kan? Ahh nanti aku tidak bisa pergi berkencan kalau seperti ini. Malang sekali nasibku, tapi nasibmu lebih malang dariku!” Ucap Stefan shock ketika sabahatnya meletakkan segunung dokumen dimejanya. “Diam kau, selamat menikmati!”. Ucap Nico bercanda namun tetap dengan wajah datarnya. “Tapi serius Nick, aku ingin Tanya sesuatu. Apa benar yang kau jenguk kemarin adalah si Miss S?”. Tanya Stefan pada Nico. “Kalau bukan dia siapa lagi?”. Jawab Nico. “Bagaimana ceritanya? Bukanlah kali ini kau bisa bertemu dengan dia dan menghabiskan malam berdua, ditemani cahaya lilin dan ugh mungkin harus kusensor”. Goda Stefan. “Tidak seperti yang kau kira, bersihkan dulu otakmu!”. Jawab Nico. “Terus bagaimana kronologinya sampai-sampai dia masuk rumah sakit. Apa karena permainanmu terlalu kasar Nick? Tak pernah kusangka.” Stefan menggoda lagi. “Mau makan kertas lebih banyak?”. Balas Nico sambil memegang tumpukan kertas. “Hahahha… Setidaknya jangan bikin sahabatmu mati konyol karena penasaran”. Ucap Stefan yang sebenarnya khawatir karena tidak mengetahui apa-apa. “Lebih baik kuceritakan saat makan nanti”. Ucap Nico. “Ini sedang makan kan? Makan kertas.”. Jawab Stefan. Nico hanya membalas dengan pandangan sadis. Stefanpun tertawa melihat ekspresi kawannya.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Aku harus selalu menjaganya. Aku terkadang berpikir, mungkin jika Selena tidak datang menemuiku maka sekarang dia masih baik-baik saja. Bukan terbaring seperti ini. Maafkan aku tante, akulah penyebabnya”. Ucap Nico dengan isakan kecil. “Terkadang tante pun berpikir jika dia tidak pergi maka dia tidak seperti ini. Namun dia sangat ingin bertemu denganmu. Sejak dia kembali kaulah orang pertama yang dia cari. Ini yang dia inginkan sejak lama. Tapi tante bahagia dia bisa menemuimu dengan cara yang tidak kita ketahui”. Ungkap mama sambil memegang pundak kiri Nico. “Jadi tante percaya padaku?”. Tanya Nico. “Memang sulit untuk percayai hal seperti itu. Tapi jika itu kamu yang mengatakan, akupun ingin Selena menemuiku dengan cara yang sama nak”. Ungkap mama seraya mengusap kepalaku. Kepala diriku yang sedang tertidur atau lebih tepatnya dalam keadaan antara hidup dan mati. Air matanya menetes perlahan.

Apa ini? Ekspresi seperti ini, raut wajah mereka benar-benar membuatku tak tahan. Aku sangat benci rumah sakit. Apa aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa? “Cliff… Cliff! Jawab aku, aku yakin kau bisa mendengarnya. Cliff, aku tidak bisa berdiam diri saja menyaksikan ini. Cliff aku mohon”. Teriakku dengan tangisan. Seberkas cahaya putih menyilaukan pandangan mataku. Terdengar suara bergema. “Senja yang berwarna jingga tidak tercipta tanpa alasan”.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Enaknya kemana ya? Game Center atau karaoke”. Ucap Stefan yang sedang memikirkan tempat nongkrong sehabis kerja. “Karaoke! Diva aja yang murah”. Ucap Stephanie. “Master Piece!”. Ucap Anastasia yang sedang berebut menentukan tempat karaoke. “Ikut Nick?”. Tanya Stefan ketika melihat temannya hendak meninggalkan meja. “Aku lain kali aja”. Jawab Nico. “Ayolah Nick! Memang mau kemana?”. Ucap Anastasia yang sedang membujuk Nico. “Aku mau kerumah sakit”. Jawab Nico dengan wajah datar. “Siapa yang sakit?”. Tanya Stephanie. “Nick jangan bilang dia….?”. Tanya Stefan yang sudah berpikir jika dia mengetahui siapa yang berada dirumah sakit. “Iya, makanya aku gak bisa ikut dengan kalian. Aku pergi duluan y, bye semuanya!”. Jawab Nico yang segera bergegas meninggalkan kantor. “Okelah bye Nick”. Ucap Stefan. “Bye”. Ucap Stephanie. “Tunggu Nick, kamu yakin baik-baik aja pergi sendiri”. Ucap Anastasia yang menghentikan Nico. “Iya, jangan cemas”. Jawab Nico singkat. “Baiklah hati-hati dijalan”. Ucapnya lagi. Kemudian Nico melambaikan tangan sebagai symbol selamat tinggal pada rekan-rekannya. “Stefan, siapa?”. Tanya Stephanie pada Stefan. “Siapa apa?”. Stefan balik bertanya. “Yang dirumah sakit!”. Jawab Anastasia yang penasaran. Karena memang ia memendam rasa suka pada Nico. “Entahlah, aku juga gak begitu paham”. Jawab Stefan yang masih belum mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya.

アンネの小説 Novel, 未分類

“Apa ini benar dirimu? Sejak kapan Nicklaus pernah terlambat?!”. Ucap Stefan. Stefan adalah teman dari hari pertama Nico menginjakan kaki di dunia perkuliahan. Hingga sekarang mereka masih melanjutkan pertemanan mereka di dunia kerja. “Sejak dia punya sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang lebih penting dari sekedar bekerja, betul?”. Ucap Stephanie yang tiba-tiba datang untuk bergabung mengobrol. Stephanie adalah pacar Stefan, keduanya bertemu ditempat kerja dan saling jatuh cinta. “Jika itu benar, kenapa mukamu muram Dick?”. Ucap Stefan. “Kau memanggil temanmu seperti itu? Kasar sekali! Dari nama aslinya Nicolas menjadi Nicklaus. Dan dari panggilannya Nick menjadi Dick”. Ucap Stephanie. “Mungkin kamu salah dengar. Haha liat Nick dia ingin aku memanggilmu Dick!”. Balas Stefan dengan gurauannya. “Oh tidak, ada Nicklaus dan Stefan? Rupanya aku tersesat di dunia The Vampire Diaries?”. Ucap Anastasia yang lewat dan bergabung dengan gurauan mereka. “Kalau iya, Nicklaus pasti sudah menguras habis darahmu.”. Jawab Stephanie.

Kemudian terdengar suara pria berdaham dan mereka pun kembali ke tempat masing-masing. “Nick, aku gak akan bertanya bagaimana. Aku sudah mengetahui jawabannya dari wajahmu. Ceritalah kalau mau!”. Ucap Stefan pada Nico. “Tidak apa-apa jangan khawatir”. Ucap Nico.

アンネのマイブーム Love, Life and Relationship, アンネの小説 Novel, 未分類

“Selena, aku harap kau belum bosan dengan mawar putih.” Ucap Nico yang meletakan mawar di meja kiri ranjang rumah sakit. “Nico, pagi sekali kamu datang”. Sapa mama. “Pagi tante, bagaimana kondisi Selena?”. Tanya Nico. “Dia masih tertidur pulas. Jika dia bangun dia akan senang melihat mawar putih disampinya. Kamu tidak bekerja?”. Ucap mama. “Setelah ini aku langsung pergi ke kantor. Tante sudah makan?”. Tanya dia. “Akhir-akhir ini tante tidak punya selera makan”. Jawab mama. “Aku membawa ini untuk tante, bubur 3 dua rasa. Kali ini aku yakin selera makan tante sedikit kembali”.  Ucapnya sambil memberikan bingkisan plastic berwarna coklat. “Terimakasih, kamu tahu ini kesukaan tante”. Ucap mama. “Dan tante pasti tahu siapa yang memberitahukannya padaku”. Balas Nico. “Anak ini ternyata banyak membicarakanku dibelakang”. Ucap mama dengan mengusap bagian kanan kepalaku. Maksudku diriku yang sedang terbaring. “Nak, ini sudah siang kau pasti akannterlambat”. Ucapnya pada Nico. “Iya, memang sudah terlambat. Kalau begitu aku pergi dulu. Ahh iya tante, jika tante kerepotan tolong hubungi aku. Aku juga bisa bergantian menjaga Selena disini”. Ucap Nico. “Terimakasih nak, berhati-hatilah kamu di jalan”. Balas mama sembari melambaikan tangan pada Nico.

アンネのマイブーム Love, Life and Relationship, アンネの小説 Novel

 

“Senja kala itu berwarna jingga.. Dan kusadari telah lama menyimpan rindu padanya. Rindu yang tak bisa terucap oleh kata adalah hal yang paling menyesakkan.”

“Satu buket berisi 9 tangkai mawar putih total menjadi Rp. 535.000.” Ucap kasir di toko bunga La Vie En Rose. “Pakai debit ya?”. Ucap Nico sembari memberikan kartu debitnya. “Silahkan, terimakasih ditunggu kunjungannya kembali.” Ucap kasir dengan memberikan kembali kartu debit Nico serta memberikan salam.

“Maaf”. Ucap Nico ketika menabrak gadis muda yang membawa troli berisikan bermacam-macam bunga. “Ohh… Anda yang datang dengan gadis itu tempo hari?”. Gadis itu melemparkan pertanyaan yang membuat Nico bingung. “Maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?”. Nico membalasnya dengan pertanyaan. “Aku bekerja di Café Latte-Choco yang menyajikan makanan untukmu dan gadis itu.” Gadis berbaju biru ini mencoba mengingatkan Nico. “Baiklah aku ingat. Tapi tunggu… tadi kau bilang ‘gadis itu’? Bukannya saat aku datang kembali ke sana kau bilang aku datang seorang diri?”. Ingatan Nico terbuka. “Aku minta maaf, di tempat itu ada yg bersikeras melarangku untuk mencampuri urusan seperti ini. Tapi jujur hari itu anda datang dengan seorang gadis berambut coklat panjang terurai”. Ucapnya. “Terimakasih telah mengatakannya sekarang”. Ucap Nico dan melangkah membelakangi gadis ini. “Tunggu! Ada yang ingin aku sampaikan”.

アンネの小説 Novel

“Paman mengalami keajaiban yang sama denganmu”. Nico tercengang mendengarnya. “Saat kecil paman mengalami hal yang sama denganmu. Saat itu, ibu paman sudah berhari-hari di rawat di rumah sakit. Sebagai anak kecil tentu akan sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu. Sejak dia terbaring di rumah sakit, tidak ada lagi yang menjemputku pulang. Namun suatu hari aku terkejut, tiba-tiba aku melihatnya di depan pagar sekolah menjemputku seperti biasa saat senja. Dan seperti biasa kami makan bersama dengan nenek. Namun aneh nya nenek masih tetap pergi ke rumah sakit. Saat aku menanyakannya mengapa? Dia hanya membelai kepalaku. Beberapa hari kemudian di suatu senja Ibu tidak muncul lagi”. Dengan raut muka sedih ucapannya terhenti. “Lalu apa yang terjadi padanya?”. Tanya Nico. “Dia meninggal”. Jawab paman Chris. Melihat Nico menunduk dan bersedih, paman Chris melanjutkan ucapannya. “Kau jangan cemas, Tuhan memberikan mujizat ini bukan berarti Tuhan akan benar-benar mengambil mereka. Ini terjadi karena koneksi dari keinginan hati yang terdalam sehingga mampu menghubungkan mereka dengan dunia kita. Memang Selena saat ini sedang koma, tapi dia tidak berhenti memikirkanmu. Dia anak yang kuat, dia pasti bisa melewati semua ini. Kau tak perlu khawatir, Nico”. Ucap paman Chris menenangkan Nico. “Aku pun berharap demikian”. Jawab Nico. “Beritahu paman ya jika dia sudah kembali”. Pinta paman Chris.

“Aku sudah memiliki keberanian untuk menatapmu lebih dalam. Kali ini penantianku tidak sia-sia, kau benar-benar datang menemuiku di café tempat kita janji 3 tahun lalu. Setiap tahun di hari valentine dan tepat di waktu yang kita janjikan aku selalu datang. Kali ini kau benar-benar datang. Tapi apa yang terjadi? Di hati kita bertemu, kau terbaring di rumah sakit dan tidak sadarkan diri. Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang aku rasakan adalah nyata. Seperti perasaanku padamu. Apapun itu aku bersyukur atas mujizat Tuhan. Dan aku tak akan membiarkan koneksi ini terputus. Jadi, temui aku lagi Selena!”.